LOGIN

Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh

Hubungan Negeri-Negeri Arab Dengan Negeri Cina Sebelum Islam

Syaikh Abu Ali al-Marzuqi al-Asfahani telah menyebutkan dalam bukunya al-Aminah Wa al-Amkinah, juz 11 halaman 163 di waktu ia menyebutkan pasar-pasar yang pernah didirikan di negeri-negeri Arab yang pada masa Jahiliyah (sebelum Islam) berjumlah tiga belas buah, sebagai berikut:

"Kemudian mereka meninggalkan negeri-negeri Sahar yang terletak di tepi laut Oman, lalu menuju Daba yaitu satu negeri di tanah Arab di tepi laut Oman juga, tempat berkumpulnya saudagar-saudagar dari negeri India, Sind, Tiongkok, dan orang-orang lain dari Timur (pulau-pulau Hindia Timur dan Afrika Timur) dan orang-orang dari Barat (orang-orang Suria, Irak, dan Romawi sebelum peperangan antara mereka dengan Persi). Biasanya pasar dagangan dimulai di sana pada hari terakhir dari bulan Rajab. Mereka membeli dagangan dari bangsa Arab dan segala hasil laut yang ada di situ. Cara mereka membeli ialah dengan tawar menawar dan al-Jalandi yaitu ketua bandar mengambil cukai sebanyak 10%, sebagaimana yang dilakukan oleh raja-raja di negeri lain."

Syihir1 (suatu negeri yang terletak di sebelah timur pantai Laut Arab yang didiami oleh kabilah Mahrah).

Setelah itu mereka berangkat bersama-sama dengan semua saudagar-saudagar yang ada di situ ke Syihir yaitu sebuah bandar yang terkenal dengan nama Syihrulmahrah. Biasanya mereka mengadakan pasar di bawah kaki bukit yang di atasnya terletak makam Nabi Hud as (bukit dekat Zhafarulmahrah). Mereka menjual kepada para penduduk jenis barang-barang yang laku seperti kemenyan Arab, jadam, segala macam kemenyan campuran, dan lain-lain.

Perdagangan di sana tidak dikenakan cukai karena tempat itu tidak berada di bawah kekuasaan suatu pemerintahan. Semua saudagar Arab yang berdagang di sana mengambil pengawal dari Bani Yatsrib, satu kabilah Arab dari Mahrah. Biasanya pasar itu dibuka pada pertengahan bulan Sya'ban.

Aden

Dari sana mereka berangkat ke Aden kecuali saudagar-saudagar yang menempuh jalan laut dan orang-orang yang barang dagangannya belum terjual. Mereka berangkat ke Aden dengan pedagang-pedagang yang tidak menghadiri pasar yang terdahulu yang biasanya diadakan pada awal bulan Ramadhan hingga hari kesepuluh. Mereka pindah dari satu pasar ke pasar lain dan tidak mengambil pengawal untuk menjaga keselamatan mereka, karena Aden berada dalam kekuasaan raja-raja Himyar dan mereka dikenakan cukai sebanyak 10%. Tempat itu kemudian dikuasai oleh raja-raja Yaman yang lain dan raja terakhir yang memungut cukai atas pasar-pasar itu ialah raja Persia yang akhirnya menjajah negeri Yaman.

Minyak wangi dan bau-bauan lain yang tersedia di sana yang rahasia pembuatannya tidak diketahui orang lain kecuali orang-orang Arab, diperdagangkan oleh saudagar-saudagar laut ke tanah India, Sind (termasuk dalam wilayah Pakistan sekarang), dan juga diperdagangkan oleh saudagar-saudagar di darat ke negeri Persi dan Romawi.

Al-Mas'udi mengatakan, "Sebagian besar air sungai Furat berakhir di negeri Hirah, kemudian melewatinya dan bermuara di Laut Persia, di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Najaf. Kapal India dan Cina mendatangi Kepulauan Hirah di sana." Syihabuddin Ahmad bin Abdul-Wahhab an-Nuwairi dalam kitabnya Nihayah al-Arab mengatakan:

"Sungai Furat merupakan salah satu dari ar-Rafidan, sedangkan yang lainnya adalah Sungai Dijlah (Tigris). Dinamakan demikian karena keduanya mengalir di kedua sisi kota Baghdad. Dijlah di sebelah timurnya dan Furat di sebelah baratnya. Melalui Dijlah datang ke Baghdad orang-orang dari Bashrah, Abalah, Ahwaz, Persi, Oman, Yamamah, Bahrain, India, Sind, dan Cina. Sedangkan dari Furat datang orang-orang dari Moshul, Azerbaijan, Armenia, Syam, Mesir, dan Maroko."


1) Pada awaInya nama Asy-Syhr digunakan untuk semua pesisir Arab Selatan. Tetapi akhirnya pemekaiannya terbatas pada kota yang sekarang dikenal dengan nama itu. Orang-orang Barat menuliskannya dengan huruf Latin dalam berbagai tulisan yang berbeda yaitu sheher, Schaher, Seer, dan Shahar.
Kembali ke Menu Utama