| LOGIN | ||
Menu |
Sejarah Masuknya Islam di Timur JauhKekuasaan Muslimin Dalam Perdagangan Di Samudera Hindia dan Laut CinaKekuasaan bangsa Arab dan kaum Muslim atas Lautan Hindia dan Laut Cina adalah kekuasaan yang bersifat damai dan perdagangan yang berdasarkan toleransi yang disertai dengan penyiaran agama Islam dengan menggunakan cara-cara yang luwes. Walaupun dermkian seluruh perdagangan di sekitar lautan-lautan itu berada di tangan mereka. Setelah agama Islam datang, Gujarat dan Kambai menjadi salah satu pusat perdagangan bagi kaum pedagang yang pergi ke Timur Jauh dan India. Banyak kaum Alawiyin yang merantau ke sana setelah kejadian-kejadian al-Ghuz (al-Ghuz adalah segolongan bangsa Turki yang memberontak terhadap dunia Islam pada abad ke-6 H) dan setelah peristiwa kaum Khawarij di Hadhramaut (Khawarij adalah kaum pemberontak yang keluar dari barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib-pen.). Di antara mereka itu dan juga yang datang kemudian terdapat penganjur-penganjur Islam di Campa, Kucing Cina, Kucing di Kalimantan Utara dan seterusnya sampai ke Brunei, Sandakan, dan pulau-pulau Sulu, Magindanau, Buaian, Sibu, serta Zamboanga. Di sana terdapat kumpulan pulau, sebagiannya didiami dan sebagian lagi kosong. Sebagian dari kepulauan-kepulauan itu telah berubah namanya setelah serangan-serangan yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugis. Di waktu itu Tanjung al-Jumhah merupakan tempat yang didatangi oleh kapal-kapal dari Tiongkok, India, dan Arab jika mereka hendak menuju ke Timur Jauh. Dari sana kapal-kapal itu menetapkan jurusan dan mengembangkan layarnya menuju ke pantai-pantai India Selatan. Di sepanjang pantai-pantai India itu terdapat banyak masyarakat Muslim sebagaimana juga terdapat di pulau-pulau yang berhadapan dengan pantai-pantai tersebut. Di antara mereka terdapat bangsa Arab Mapula di Pantai Malabar, yaitu orang Arab keturunan, sekitar satu juta jiwa di samping Muslimin pribumi. Kaum Alawiyin telah beranak cucu di sana sejak berabad-abad. Di bandar Kuwailandi terdapat kira-kira 300 keluarga Alawiyin. Pendudukan Islam dan kaum Muslim atas pantai ini terus berlangsung sepanjang Malabar sampai ke Madras terus ke Sailan. Di sana terdapat sisa-sisa masyarakat Muslim. Demikianlah bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan kaum Muslim atas jalur-jalur hubungan dagang ke Timur Jauh di mana unsur yang terkuat dari mereka adalah bangsa Arab. Gustave Le Bon mengatakan: "Kita tidak melihat dalam seiarah ada satu bangsa yang mempunyai pengaruh yang nyata seperti bangsa Arab. Semua bangsa yang berhubungan dengan Arab menerima peradaban mereka, walaupun dalam beberapa waktu saja. Setelah bangsa Arab lenyap dari panggung sejarah, maka bangsa-bangsa yang menaklukkan mereka seperti bangsa Turki, Mongol, dan lainnya mengambil adat istiadat mereka dan nampak pula sebagai penyebar pengaruh mereka ke seluruh dunia. Memang peradaban Arab telah mati sejak beberapa abad, akan tetapi sekarang dunia tidak mengenal di negeri-negeri sepanjang pantai Samudera Atlantik sampai ke India, dan dari Laut Tengah sampai ke Sahara selain para pengikut Nabi Muhammad saw dan bahasa mereka." Inilah fakta-fakta yang dijelaskan oleh Gustave Le Bon, tetapi keterangan itu tidak lepas dari racun-racun berbisa yang membangkitkan rasa kebangsaan yang sempit di antara kaum Muslim. Kerana pemberontak yang berasal dari bangsa Turki berhubungan dengan fakultas-fakultas dan perguruan-perguruan Perancis, maka putuslah hubungan mereka dengan kaum Muslim seluruhnya. Gustave Le Bon menyebutkan pula tentang sumber kekayaan yug luas yang dahulu terdapat di Mesir yang merupakan hasil perdagangan dengan Timur Jauh. Kemudian ia mengatakan, "Dan perdagangan itu tetap menjadi sumber kekayaan yang luas di Mesir sampai Vasco de Gama (bangsa Portugis) pada tahun 903 H/1497 M melalui Tanjung Harapan dan sampai ke pantai Malabar yang belum pemah dilihat oleh orang-orang Eropa sebelumnya dan belum pernah dikunjungi oleh siapa pun juga kecuali oleh orang Arab hingga masa itu." Dari Sailan ke Selat Malaka menuju Semenanjung Melayu di satu sisi dan Sumatera di sisi lain, kemudian pulau-pulau di sekitar Singapura, pantai Sumatera sampai ke Palembang, lalu pulau-pulau di Laut Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, kemudian Kepulauan Sila, sampai Laut Sulu (dahulu lautan yang terletak di antara Kepulauan Sila dan Laut Sulu disebut Laut Sila) merupakan jalur kapal-kapal dagang yang menuju ke Maluku untuk mengumpulkan rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Dari Maluku terus menuju ke Kepulauan Fak-Fak yang bersama dengan Irian dinamakan Guinea Baru (Guinea Lama terdapat di Afrika Selatan di mana di sana terdapat kerajaan Arab kemudian kerajaan-kerajaan Islam sebelum orang-orang Nasrani menguasainya), kemudian pulau-pulau Sulu, Magin danau, Zamboanga, dan Pulau Saldung Besar (Luzon) di mana terletak kota Manila. Di pulau-pulau ini juga terdapat pendatang-pendatang Islam dan kaum Muslim pribumi, sampai perkumpulan-perkumpulan misionaris datang silih berganti sehingga jutaan orang di antara mereka menjadi murtad. Kemudian jalur Tiongkok yaitu melalui Laut Cina Selatan sebagaimana yang digambarkan oleh Halabi dalam kisah perjalanannya dan oleh penulis sejarah Islam lainnya sebagai berikut: Dari Pulau Tumasik (Singapura) ke Benanga dan dari sini ke Sura di Teluk Kul, lalu ke Syaherenua, Kamboja, Campa sampai ke Teluk Tokin. Dapat juga dari Campa ke Annam, dari Annam ke pintu-pintu masuk Cina, dari sana ke Tiongkok Tenggara. Di tempat-tempat yang saya sebutkan tadi terdapat masyarakat Islam dan sampai sekarang sebagian penduduknya adalah orang-orang Islam seperti di Yunan. Dari apa yang telah kami sebutkan dapat Anda lihat bahwa kaum Muslim tersebar di sepanjang jalur-jalur perhubungan dagang yang telah dikuasai oleh Islam sejak dahulu kala. Islam telah tersiar di seluruh jalur perdagangan Arab dan Islam. Bangsa Arab telah mendahului bangsa-bangsa lain dalam menempuh jalan lautan itu, baik sebelum atau sesudah berkembangnya agama Islam. Sebagaimana mereka merupakan golongan terbesar di negeri-negeri sepanjang pantai Laut Merah dan pantai Lautan Hindia dari jurusan India dan Afrika, serta pulau-pulau yang terletak di antara dua daratan itu, mereka juga bersama dengan saudara-saudara mereka sesama Muslim merupakan golongan yang terbesar di antara penduduk Malaka, bahkan mereka menguasai semua jalan-jalan di Selat Malaka yang terbentang sampai ke Australia karena jumlah mereka yang banyak di Jawa, Kalimantan Tenggara, Kepulauan Sila (Sulawesi), Maluku, dan Fak-fak di Irian. Mereka juga banyak terdapat di pantai utara Kalimantan, di Siam, Indo China, Kepulauan Sulu, dan Magindanau (Filipina). Lalu sebagaimana yang telah kami sebutkan, mereka pun tersebar di sepanjang pantai dari Singapura ke Hongkong dan Lautan Cina. Dari uraian di atas jelaslah bahwa bangsa Arab dewasa itu tidak hanya tergolong di antara bangsa-bangsa besar yang menaklukkan dunia, tetapi mereka juga kaum pelaut, orang-orang besar di darat dan di laut. Berikut ini diuraikan sebuah kisah agar menjadi bahan pengertian dan juga agar dapat disimpulkan dari apa yang akan diterangkan kelak. Kisah ini dikutip dari buku Hubungan-hubungan antara bangsa Arab dan bangsa Tionghoa karangan seorang Tionghoa bernama Badruddin Haji. Dalam halaman 200-201 pada bukunya ia mengatakan sebagai berikut: "Sesudah Jengis Khan meninggal dunia maka terbagilah kerajaannya di antara empat orang puteranya. Salah seorang di antara mereka yang bernama Kubilai Khan mendapat negeri Tiongkok. Lalu Abakah Khan bin Hulaku memberi peringatan kepada Kubilai Khan agar berhati-hati terhadap kaum Muslim, disebabkan sebagian kaum Masehi telah dapat mempengaruhi Abakah Khan bin Hulaku yang beristerikan seorang wanita Kristen. Mereka itu menghasut dan menakut-nakuti Kubilai Khan dengan mengatakan bahwa dalam Al-Qur'an, kitab suci kaum Muslim, terdapat ayat yang memerintahkan kaum Muslim supaya membunuh kaum musyrik, yang bunyinya, "'Bunuhlah kaum musyrik di mana saja kamu menjumpai mereka itu.' "Mereka (orang-orang Kristen) itu juga menghasut raja-raja Tartar "(diceritakan dalam kitab Talfik al-Akhbar 'An at-Turk wa At-Tatar, ldtab ini ditulis dalam dua jilid), sehingga raja-raja itu melarang kaum Muslim bekerja di istana-istana Mongol di Iran. Abakah Khan menerima dengan baik anjuran famili-famili isterinya dari kaum Kristen untuk memperingatkan Kubilai Khan agar berhati-hati terhadap kaum Muslim. Raja Kubilai Khan menerima hasutan ini sehingga berubah sikapnya terhadap kaum Muslim. Bila dahulu ia bersikap ramah terhadap orang-orang asing yang berlainan pendirian dan kepercayaannya maka sejak itu dengan mendadak ia menjadi bengis serta bersikap menentang dan menekan kaum Muslim di Tiongkok. Ia memerintahkan kaum Muslimin untuk mentaati peraturan Yasak yang dikeluarkan oleh Jengis Khan dalam hal-hal urusan pribadi mereka seperti nikah dan warisan. Ia juga mengeluarkan suatu perintah untuk menurunkan imam-imam (pemuka agama Islam) dari mimbar-mimbar dan memaksa orang Islam memakan daging yang dipotong menurut cara Mongol. Kubilai Khan tidak memikirkan akibat dari kekejamannya itu, kecuali setelah hal itu berjalan tujuh tahun lamanya. Dalam masa tujuh tahun itu berturut-turut keluarlah kaum Muslim dari negeri Tiongkok menuju ke pulau-pulau Indonesia dan mereka ini kemudian tidak suka lagi berdagang dengan Tiongkok. Kapal-kapal mereka berlayar dari kepulauan ini membawa barang-barang eksport ke negeri irak dan Mesir. Maka berkembanglah perdagangan di Mesir pada waktu itu melebihi keadaannya semula dan berkuranglah hasil import negeri Tiongkok selama di bawah pemerintahan Kubilai Khan sampai batas yang tidak dapat ditanggung lagi. Maka menyesallah Kubilai Khan atas perbuatannya yang dilakukan terhadap kaum Muslim. Kemudian ia menghapuskan semua peraturan yang keras dan zalim yang pernah dikenakan kepada mereka. Ia kembali berbaik hati kepada mereka, lalu mendirikan sebuah masjid besar untuk mereka di Khan Balak yang konon luasnya cukup untuk seratus ribu orang."1 Pada halaman 137 setelah menyebutkan tentang permusuhan yang keras antara Khawarizmi Syah dan Jengis Khan yang berakhir dengan jatuhnya Baghdad-ia mengatakan sebagai berikut: "Kedatangan pedagang-pedagang Muslimin berulang kali ke ibukota Tiongkok secara nyata telah memperbesar pendapatan kas negeri Tiongkok. Setelah Kubilai Khan bersikap keras terhadap kaum Muslim karena hasutan Marcopolo (seorang pengelana dari Venesia, Italia) yang pernah mendapat kepercayaan raja Mongol di Khan Balak dan setelah ia melarang mereka memakan daging yang disembelih dan kawin secara agama Islam dan memaksa mereka untuk menaati undang-undang Jengis Khan, maka pedagang-pedagang Muslimin tidak suka lagi mengunjungi ibukota Tiongkok untuk beberapa waktu lamanya. Akibatnya terjadilah defisit yang besar dalam keuangan negeri Tiongkok. Kubilai Khan tidak menghapuskan peraturan-peraturan kejam yang dikenakan kepada kaum Muslim itu melainkan setelah ia merasakan kurangnya barang import dan semakin buruknya perdagangan (H. Howorth's History of the Mongols, halaman 245). Keadaan ini, diceritakan pula oleh Syarif TaJuddin as-Samar qandi pengarang buku Perjalanan ke Timur Jauh dan Tiongkok, yang dikutip oleh pengarang buku Subhul A'sya, juz IV halaman 446 sebagai berikut: "Di antara hal luar biasa yang saya lihat di kerajaan Qaan (Tiongkok) ialah meskipun raja yang memerintah di sana bukan orang Islam tetapi mempunyai rakyat yang beragama Islam dari berbagai bangsa. Kaum Muslim ini dihormati dan dihargai. Apabila seorang kafir membunuh seorang Islam, maka dibunuhlah si kafir itu beserta seluruh keluarganya dan harta bendanya dirampas. Sebaliknya kalau seorang Islam membunuh seorang kafir, maka orang Islam itu tidak dibunuh, tetapi dituntut untuk membayar diyat (ganti rugi). Ganti rugi bagi seorang kafir yang dibunuh itu tidak lebih dari seekor keledai." 1) Lihat kitab Al-'Alaqat halaman 201 dan kitab Awraq Mughol halaman 164. |
|
Persatuan Kebajikan Asyraaf Malaysia tidak bertanggungjawap terhadap sebarang bentuk bahan penulisan
atau maklumat yang menyentuh sensiviti sesetengah golongan. Semua bahan penulisan atau maklumat di dalam asyraaf.com adalah dalam bentuk atau salinan asal dari
penulisnya dan pihak kami tidak menambah, mengurangi atau mengedit bahan-bahan penulisan tersebut. Bacalah dengan pandangan dan pendapat anda sendiri. ©2006 Persatuan Kebajikan Asyraaf Malaysia http://www.asyraaf.net content by Shaiful Jamalullail | designed by Karimy BenYahya | coded by Mohd. BilFaqih Sebarang pertanyaan sila email: syedkarimy@gmail.com |
||