| LOGIN | ||
Menu |
Sejarah Masuknya Islam di Timur JauhPertempuran PertamaPertempuran pertama terjadi pada tahun 27-28 H (647 M). Makam, Ummu Haram binti Malhan yang didoakan oleh Rasulullah saw agar menjadi orang yang ikut serta dalam peperangan laut pertama bagi kaum Muslim merupakan bukti yang nyata. Makamnya di Cyprus tetap dikenal orang sampai masa Harun ar-Rasyid. Umar ra melarang kaum Muslim untuk berperang di laut, namun pada masa kekhalifahan Usman ia mengizinkan orang yang ingin berperang di laut atas keinginan sendiri. Sejak itu kaum Muslim tidak ragu-ragu lagi. Mereka terus bergerak maju mengarungi lautan dan mengibarkan panji perjuangan di atas permukaan laut dengan meraih kemenangan. Belum sampai setengah abad Islam muncul, Laut Putih telah menjadi pusat perjuangan, pusat kemenangan yang gilang-gemilang, dan pusat serangan-serangan mereka yang gagah berani. Laut itu menjadi berada di bawah kekuasaan mereka, serta lebih kuat dan lebih kokoh dari kekuasaan di darat. Sejak zaman Khalifah Usman ra-di mana pada masanya Islam masuk ke Jawa dan utusan-utusannya telah sampai ke negeri Cina-orang-orang Arab telah berangkat ke Laut Putih dengan kekuatan angkatan laut dan serangan-serangan yang dahsyat untuk menguasai pulau-pulau yang dekat dengan pantai-pantai yang dikuasai Islam. Tujuannya adalah untuk mencegah timbulnya kekacauan yang dilakukan para penduduk pulau-pulau yang berdekatan dengan pesisir negeri Syam. Pada tahun 27 atau 28 H (647 M) kaum Muslim mengadakan pertempuran laut di Kepulauan Cyprus. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dikatakan bahwa Rasulullah saw bangkit dari tempatnya dengan tertawa. Lalu Ummu Haram bertanya kepada beliau, "Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Orang-orang di antara umatku menunjukkan kepadaku sebagai pejuang fi sabilillah yang mengarungi gelombang laut seperti raja-raja di atas singgasana." Lalu Ummu Haram berkata kepada beliau, "Mohonkanlah kepada Allah agar Ia menjadikan aku termasuk di antara mereka." Lalu Rasulullah pun mendoakannya. Ummu Haram mengarungi laut di masa Muawiyah berkuasa di Syam, pada masa kekhalifahan Usman. Lalu ia terjatuh dari kudanya ketika ia kembali dari laut sehingga ia gugur dan di makamkan di Cyprus. Kejadian ini diceritakan oleh Ibn Abdil-Ban dan ath-Thabrani. Ath-Thabrani meriwayatkan hadis ini dari Ibr al-Ghaz dengan sanad para perawinya yang sahih. Ia berkata, "Mereka-yaitu penduduk Cyprus mengatakan, 'Ini adalah makam seorang wanita yang salehah." Pada tahun 32 H kaum Muslim menyerang Cyprus untuk kedua kalinya dan dapat menaklukannya. Mereka. juga menyerang Pulai Sicilia. Pada masa pemerintahan Walid bin Abdul-Malik mereka menyerang pulau Creta, Sicilia, dan Sardinia, dan berhasil menduduki Kepulauan Baleares (Mayorka dan Menorka). Serangan-serangan laut yang dilancarkan kaum Muslim terhadap Constantinopel (Istanbul) dengan angkatan-angkatan laut raksasa, kekuatan yang hebat, dan tentara yang banyak termasuk salah satu serangan laut yang terbesar di masa itu. Serangan-serangan kaum Muslim di Laut Tengah makin bertambah dan makin kuat, sehingga pada permulaan abad ke-9 Masehi mereka sudah menguasai lautan itu dan memegang tampuk kepemimpinan sebelah selatan dan tengah dari laut yang luas itu yang terletak tengah-tengah dunia lama dan menguasainya dari segala penjuru. Di antara keistimewaan yang terpentipg di masa itu adalah berkembangnya perang spekulasi dan banyaknya pasukan yang kuat yang dapat menentang pemerintah-pemerintah yang berkuasa. Pasukan-pasukan yang menguasai Laut Putih itu sebagian besar terdiri dari orang-orang Islam, yang bekerja untuk kepentingan sendiri atau berada di bawah perlindungan salah satu pemerintahan Islam. Mereka berhasil menduduki Pulau Creta pada akhir tahun 212 H (827 M) dan Pulau Sicilia pada tahun 214 H (829 M). Pada tahun 232 H (846 M) mereka menyerang Roma. Pada akhir abad ke-3 Hijriah muncullah seorang pelaut Islam terbesar, Ghulam Zurafah at-Tarablusi (dari Tripoli) yang dikenal oleh bangsa-bangsa Barat dengan nama Leon of Tripulis. Pahlawan laut ini telah melakukan pertempuran-pertempuran yang menggoncangkan seluruh Eropa. Penduduk Eropa biasanya menyebut pejuang-pejuang laut itu dengan nama "bajak laut" (Corsaire). Begitulah juga mereka menamakan penduduk Kepulauan Maluku dan Filipina yang melawan bangsa Spanyol dan lain-lainnya selama tiga abad di Laut Sulawesi dan Laut Cina Selatan. Jika kami menjelaskan serangan-serangan tersebut yang terus berlangsung selama berabad-abad niscaya pembicaraan ini akan menjadi panjang lebar. Serangan-serangan itu tidak kurang pentingnya dan keberaniannya dibandingkan pertempuran-pertempuran yang dilakukan oleh bangsa Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 di lautan Amerika di mana mereka menguasainya dan berusaha memusnahkan para penduduk aslinya. Usaha-usaha para pelaut Islam seperti Abi Hafsh Umar alBalluthi, Leon at-Tarablusi, dan lain-lainnya tidak kurang gemilang dan dahsyatnya dibandingkan raja-raja laut yang belakangan seperti Endrya Durya, John Hopkins, Francis Drake, Cortir, Lirazo, dan lain-lainnya. Ibn Khaldun, sejarawan menggambarkan masa kekuasaan Islam di Laut Putih ini sebagai berikut: "Kaum Muslim di masa kedaulatannya telah menguasai Laut Tengah (Laut Romawi) ini dari segala sudutnya. Di tempat itu kekuasaan mereka menjadi besar. Umat Nasrani di masa itu tidak mampu menempatkan angkatan lautnya sedikit pun di salah satu sudutnya. Kaum Muslimin bergerak di permukaan laut tersebut untuk kemenangan selama-lamanya. Mereka memiliki kedudukan-kedudukan yang terkemuka, meraih kemenangan dan kekayaan, dan menguasai seluruh pulau yang terpisah dari pesisir seperti Mayorka, Menorka, Yabisah (Ibiz), Sardinia, Sicilia, Qausharah (Pantellaria), Malta, Creta, Cyprus, dan seluruh kerajaan Romawi serta Eropa Barat. Di waktu itu Abul-Qasim asy-Syi'ie dan putra-putranya melancarkan serangan dengan angkatan lautnya dari arah al-Mahdiah ke Geneva (Jenewa) dan kembali dengan membawa kemenangan dan harta rampasan. "Seorang pejuang bemama al-Amiry, seorang raja ath-Thawaif yang menguasai Daniah telah menaklukan Pulau Sardinia dengan angkatan lautnya pada tahun 405 Hijriah (1014 M). Pulau itu kemudian diduduki kembali oleh kaum Nasrani saat itu juga. Selama masa itu kaum Muslim telah menguasai banyak pulau di Laut Tengah. Armada mereka dapat bergerak leluasa, datang dan pergi. Tentara Islam melintasi Laut Putih dengan armada-armada yang bergerak dari Sicilia ke daratan besar Eropa yang menghadapinya. Mereka berhasil menaklukan raja-raja Barat serta kerajaan-kerajaan mereka (lihat Muqaddimah Ibn Khaldun, halaman. 213)." Makam Ummu Haram Makam Ummu Haram terletak 2 rail dari bandara kota Laranka di dekat masjid yang dibangun oleh Syaikh Hasan at-Turki pada tahun 1174 H/1760 M. Kemudian dibangun makamnya yang baru pada tahun 1232 H/1816 M dan dikenal di kalangan Muslimin Turki sebagai "makam bibi sultan" mengingat Ummu Haram adalah bibi Rasulullah saw melalui persusuan. Makam ini mempunyai kedudukan yang terhormat. Tetapi orang-orang Yunani merusak kemuliaannya dan menjadikan bangunan makam ini sebagai sarana tentara serta merampas masjid yang bersejarah itu. Namun orang-orang Turki dapat mengambil kembali daerah itu dan membangun bagian yang telah runtuh. Kontinuitas Kepahlawanan Islam Pada awal terusimya Islam dari Andalusia dan teradinya penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Barat, serta pendudukan sebagian Afrika Utara, Laut Tengah tetap menjadi ajang kepahlawanan Islam yang mengagumkan. Pada akhir-akhir abad kelima belas kaum Muslimin melancarkan serangan perlawanan di laut dan di pesisir Eropa. Khairuddin Barbaros dan Saudaranya Aruj Aruj adalah seorang pelaut yang bersemangat. Ayahnya semula termasuk anggota pasukan al-Inkisyariyah (pasukan baru) lalu menjalankan perdagangan. Khairuddin Barbaros bergabung dengan saudaranya, Aruj. Lalu mereka berdua mengarungi lautan, memerangi musuh-musuh yang menyerang kapal-kapal kaum Muslim, dan menyerbu tempat-tempat dan kota-kota pesisir di Afrika Utara. Kedua pemuda Turki ini dan tentara mereka melakukan penentangan untuk menghadapi para penyerang dan berhubungan dengan kelompok al-Hafshiyyun di Tunis di masa Sultan Muhammad bin al-Hasan pada tahun 1494 M. Kemudian Sultan menjadikan Pulau Jirbah sebagai markas kegiatan-kegiatan mereka. Orang-orang Turki dan Maghribi bersatu untuk melakukan pertahanan. Setelah itu markas perjuangan pindah ke tempat lain dan mereka tetap meneruskan pertempuran. Mereka menyerang para musuh untuk membebaskan pulau-pulau mereka pada tahun 1516 Masehi. Aruj melihat adanya kelemahan, kurang kemauan, dan suka lari dari perjuangan pada penguasa pulau-pulau itu. Maka ia menghimpun kekuatan untuk menguasai pulau-pulau itu untuk memenuhi permintaan orang-orang Tilmisan. Tiba-tiba ia mendapati salah satu kelompok dari penduduk Tilmisan meminta bantuan kepada orang-orang asing dan mengepungnya sehingga ia terpaksa meninggalkan kota itu. Lalu orang-orang Spanyol menyerangnya di tengah laut sehingga ia gugur sebagai korban dari terpecah-belahnya kaum Muslim dan terbunuh pada tahun 1518 M. Lalu Khairuddin meneruskan penyerangan. Cita-citanya tertuju kepada Daulah Usmaniyah dan hasilnya Daulah Usmaniyah dapat menguasai Afrika Utara. Kemudian datang kekuatan besar dengan armada-armada dan para penyerangnya di bawah pimpinan serikat Eropa, sedangkan Daulah Usmaniyah berdiri di pihak Khairuddin. Pasukan al-Inkisyariyah ikut serta dalam peperangan. Banyak pasukan musuh yang ditawan oleh kaum Muslim. Tetapi tawanan-tawanan itu tidak mendapat siksaan, apalagi dibunuh. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para musuh. Kemudian Khairuddin melanjutkan perjuangannya dan bertempur dalam peperangan-peperangan yang hebat, la menyerbu Spanyol dan membebaskan tawanan-tawanan Muslimin. Pada sebagian besar peperangan ia dapat meraih kemenangan dengan didukung oleh Daulah Usmaniyah di masa Sultan Sulaim 1, Sulaiman al-Qanuni, Mesir, Tunis, Al-jazair, dan Maroko sehingga, ia dapat membebaskan sebagian negeri-negeri Muslimin dan menyerang pelabuhan Italia, Venesia, Sicilia, dan lain-lainnya, serta dapat menguasai sejumlah pulau dan menghancurkan benteng-benteng musuh. Dalam Mausu'ah al-Ulum al-Islamiyah1 ada keterangan tentang Khahuddin Barbaros sebagai berikut: "Ia seorang pelaut dan bajak laut Turki. Sekitar tahun 888-953 H (1482-1546 M) ia bergabung dengan sebagian orang-orangnya dan anggota-anggota keluarganya, dan mencapai puncak dalam pengabdian kepada armadanya sehingga menjadi salah seorang panglimanya. Ia juga, bersekutu dengan saudaranya yang bemama Aruj dalam melakukan serangan yang berhasil terhadap Al-jazair dan kemudian menjadi penguasanya. Ia lalu digantikan oleh puteranya, Hasan (wafat pada tahun 978 H/1570 M) yang memperluas kekuasaan Turki atas Afrika Utara dan Laut Tengah bagian timur dengan bersekutu bersama orang-orang Turki. Ia juga mengalahkan armada Spanyol pada tahun 925 H (1519 M) dan mengalahkan Endrya Durya dua kali. "Ia pun bersekutu dengan armada Perancis untuk melawan Karel V pada tahun 950 H (1543 M). Dalam bahasa Italia namanya berarti 'janggut merah'. Namanya ini dan kapal-kapal yang digunakannya untuk menghadang jalur kapal-kapal perdagangan membangkitkan rasa takut di laut dan di pesisir Laut Tengah karena Barbaros adalah seorang bajak laut yang berusaha untuk merampas." Ia wafat di Istambul pada tahun 1546 M. Makamnya terkenal, terletak di pantai Bosporus. Setelah ia wafat pahlawan-pahlawan Islam meneruskan perjuangannya. Pada masa Murabithin dan Muwahhidin kekuasaan Muslimin terus berlangsung atas Laut Tengah dan Lautan Atlantik. Cyprus Pulau ini terletak di hadapan pantai Syam dan Antokia. Jaraknya dari pantai Suriah sekitar 80 km, dari Turki sekitar 250 km, dan dari Yunani sekitar 1000 km. Selama beberapa abad, bangsa demi bangsa menyerang pulau ini. Pasukan Islam dapat masuk ke sana tahun 28 H (648 M) di bawah pimpinan Abdullah bin Qais dengan 1700 perahu. Ikut serta dalam peperangan ini Ummu Haram binti Malhan bersama suaminya, Ubadah bin ash-Shamit, juga Abu Ayub al-Anshari, dan sahabat-sahabat Rasulullah yang lain. Bangsa Romawi menjadikan pulau ini dan pulau-pulau lainnya sebagai pangkalan untuk menyerang pelabuhan-pelabuhan Muslimin. Walaupun demikian kaum Muslim memasuki pulau ini secara damai dengan syarat para penduduknya bersikap netral, tidak membantu. Muslim dan tidak juga membantu musuh mereka, agar kaum Muslim membiarkan (tidak mengganggu) mereka. Namun pada tahun 32 H/652 M. mereka melanggar perjanjian dan membantu Romawi menghadapi kaum Muslim, sehingga kaum Muslimin memerangi mereka pada tahun 33 H/653 M dan menduduki pulau itu. Kemudian terjadi perdamaian yang kedua kalinya. Mulailah kaum Muslim hijrah ke sana, lalu membangun masjid-masjid dan tempat-tempat tinggal. Setelah itu Yazid bin Muawiyah menyuruh kaum Muslim untuk keluar dari pulau itu, menarik pasukan penjaga dari sana, dan menghancurkan apa yang telah mereka bangun. Lalu penduduknya kembali melanggar perjanjian dan pulau itu menjadi markas penyerangan terhadap negeri-negeri Islam, sehingga orang Romawi dapat melakukan penyerangan dan menawan sejumlah kapal Muslimin pada tahun 74 H/693 M. Panglima pasukan Salib, Richard 'The Lion Heart' pada tahun 587 H/1191 M menyerbu pulau ini untuk menyerang pelabuhan-pelabuhan kaum Muslim dengan bekerjasama dengan para penduduknya. Kemudian Lusignan yang kehilangan kekuasaan di Baitul Maqdis membelinya. Petrus Lusignan merupakan salah satu penguasa pulau ini. Ia banyak berperang dalam Perang Salib melawan kaum Muslim. Pada hari Jum'at tahun 768 H/1365 M ia menyerang Iskandariyah dan terus menyerang kaum Muslim serta merampas kapal-kapal mereka, sehingga raja-raja Mesir melancarkan serangan balasan yang kuat pada tahun 813-814 H/1410-1411 M untuk memberi pelajaran kepada mereka. Namun mereka kembali melakukan penyerangan-penyerangan seperti semula. Kemudian pada tahun 817 H/1414 M kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling menyerang. Tapi mereka kembali melanggar kesepakatan. Maka raja Mesir, Sultan al-Mamluki, pada - tahun 827 H/1423 M mengirimkan pasukan ke pulau ini, sehingga pulau ini menjadi berada di bawah kekuasaan Mesir. Di antara tawanan terdapat raja pada itu James Lorenian yang dibawa ke Kairo. Kemudian pulau itu dikuasai oleh orang-orang Venesia, namun mereka membayar pajak kepada Mesir. Pada tahun 979 H/1571 M Daulah Islamiyah di masa Sultan Sulaim mengirimkan kekuatan-kekuatan ke sana, sehingga pulau itu dapat kembali kepada pemerintah Islam. Setelah itu kaum Muslim bertambah banyak sehingga menjadi mayoritas. Pada masa Sultan Abdul Hamid H, orang-orang Romawi mulai melakukan kelaliman sehingga Daulah Islamiyah pada tahun 1296 H/1879 M terpaksa menerima kesepakatan bahwa, Inggris mempunyai hak untuk menguasai Cyprus sebagai imbalan atas pembelaannya terhadap daerah milik Daulah Usmaniyah di Asia. Orang-orang Yunani menjadi banyak di sana dan mereka mengangkat Kardinal Makarios sebagai kepala, pemerintahan republik ini, sedangkan wakilnya adalah Dr. Kusyuk at-Turki. Tetapi pada tahun 1967 M orang-orang Yunani melakukan penyerangan terhadap orang-orang Turki. Lalu terjadilah pembantaian yang ganas terhadap kaum Muslim dan mereka dikepung. Maka bergeraklah pasukan Turki untuk memenuhi seruan kemanusiaan. Mereka dapat menguasai sekitar 40% dari pulau itu. Kemudian terbentuklah pemerintahan Islam di bawah Dr. Rauf Denktash. Ketika tentara Turki masuk, mereka mendapati bekas-bekas serangan dan pembantaian massal yang menggetarkan jiwa. Juga, didapati rumah-rumah serta masjid-masjid yang roboh dan hancur. Lebih dari 30.000 orang terpaksa berlindung ke Turki. Demikianlah, akhirnya pasukan Turki dapat menyelamatkan kaum Muslim yang masih tersisa, setelah jumlah korban mencapai 5.000 orang lebih dan sekitar 3.000 orang hilang. Jumlah masjid yang dihancurkan 103 buah dan bangunan yang dibakar juga, termasuk 451 sekolah dasar dan 16 sekolah lanjutan. Sikap negara-negara Arab berbeda-beda satu sama, lain. Sebagian mendukung Cyprus Yunani dan sebagian mendukung Cyprus Turki. Namun pemerintahan Turki tetap tegak di daerah Turki. Akhirnya Sekjen PBB Perez de Cuellar mengajukan usulan untuk menetapkan batas-batas pemerintahan antara Turki dan Yunani dengan menjadikan kedua belah pihak, yaitu orang-orang Turki dan Yunani, dalam suatu ikatan federasi. Kedua pihak dapat menerima usulan itu. Sicilia Sicilia adalah sebuah pulau yang hanya dipisahkan oleh Teluk Masenna dari Italia yang panjangnya mencapai 3 Km. Ia menjadi jembatan peradaban Islam ke Eropa. Pada tahun 122 H Habib bin Abi Ubaidah cucu Uqbah, penakluk Afiika tiba di pulau ini bersama dengan anaknya, Abdurrahman. Tetapi ia tidak menguasainya. Lalu orang-orang Arab mulai melakukan penyerangan di bawah pimpinan Muawiyah bin Khadi al-Kindi. Setelah itu berturut-turut terjadi penyerangan terhadap pulau itu sampai masa Ziyadatullah bin al-Aghlab (201-223 H). Pasukan Islam berangkat dari Qairawan, Tunis pada tahun 212 H/1827 M terdiri dari penduduk Khurasan (Persi), orang-orang Barbar Maroko, bangsawan-bangsawan Afrika, dan para ahli ilmu di bawah pimpinan al-Qadhi Asad bin al-Furat bin Sinan. Pasukan Islam turun di Mazara. Setelah peperangan yang sengit orang-orang Romawi dapat terkalahkan, sisanya mundur dan membentengi diri di Zaragoza. Pada tahun 213 H/828 M tersebar wabah dan kaum Muslim banyak yang wafat. Di antaranya adalah sang pemimpin, Asad bin al-Furat. Ia dimakamkan di bawah benteng-benteng pertahanan Zaragoza. Setelah itu yang menggantikannya adalah Muhammad bin Abil-Hawari. Namun mereka-karena tersiksa wabah-terpaksa kembali ke Afrika. Lalu musuh merintangi mereka untuk keluar, sehingga kaum Muslim pun kembali dan menyalakan api peperangan. Kemudian tibalah armada para pejuang dari Andalusia dengan 800 kapal dipimpin oleh Asbagh bin Wakil. Mereka dapat menguasai kota Mineo dan menaklukkan Gergant. Pada tahun 216 H/831 M tersebar wabah dan menyerang kaum Muslim, di mana sang panglima Asbagh dan gubemur Muhammad bin Abil-Hawari wafat. Lalu Ziyadatullah al-Aghlabi mengirim Zuhair bin Auf untuk meneruskan perjuangan. Ia mengepung ibukota Palermo. Setelah peperangan selesai, panglima Romawi meminta keamanan agar mereka dapat berangkat bersama keluarga mereka dari pulau itu. Para pejuang Muslim masuk ke kota itu pada tahun 220 H/1835 M dan menduduki Masenna pada tahun 219 H/834 M di tengah peperangan. Zuhair bin Auf wafat pada tahun 221 H/835 M. Sesudah itu yang menggantikannya adalah Ibrahim bin Abdullah al-Aghlab. Sesudah ia wafat tahun 236 H/850 M yang memerintahadalah al-Abbas bin al-Fadhl bin Ya'qub bin Fuzarah. Ia melanjutkan pertempuran sampai Romawi menyerah pada tahun 246 H/860 M. Lalu al-Abbas menuju ke Siracusa untuk menaklukannya, tetapi ia wafat ketika mendekati kota itu tahun 247 H/861 M, lalu dimakamkan di sana. Setelah itu tibalah Khafajah bin Sulaiman sebagai penguasa Sicilia. Ia menduduki pulau Poots dan mengepung Siracusa. Pertempuran-pertempuran di darat dan di laut antara kedua belah pihak terus berlangsung. Lalu datang Muhammad bin Sufyan bin Khafajah penguasa Sicilia dan putranya dengan membawa pasukan. Ketika itu ia dapat menguasai Malta dan menghancurkan armada Romawi. Maka jadilah Malta takluk kepada keamiran Sicilia dari tahun 256 H sampai tahun 483 H (870 M sampai 1090 M). Setelah itu Ahmad bin Abdullah al-Aghlabi berkuasa, lalu ia mengirim kekuatan ke Siracusa sehinggga dapat diduduki oleh kaum Muslim, sedangkan musuh hanya tinggal menguasai bagian sebelah Timur dari Taormina sampai Catania. Pada tahun 289 H/901 M Ibrahim bin Ahmad, Amir Qairawan turun tahta melepaskan kekuasaannya untuk anaknya Abul-Abbas Abdullah. Maka ia memanggilnya dari Sicilia, sedangkan ia (Ibrahim) pergi berjihad ke Tiormina. Perang berkecamuk dengan dahsyat sampai orang-orang Romawi lari, lalu ditangkap oleh Muslimin. Ibrahim memasuki kota itu dan kemudian menduduki kota Ramada. Lalu pasukannya melanjutkan serangan ke Kalabaria selatan Italia yang tunduk kepada Kerajaan Napoli dan terus maju sampai ke perbatasan Napoli. Pertempuran-pertempuran di laut juga terus berlangsung. Pada tahun 336 H/947 M gubemur Sicilia dari pihak Khalifa Fathimiyah adalah Hasan bin Ali bin Abil-Hasan al-Kalbi. Saat itu kekuasaan Islam mengontrol Sicilia dan Italia Selatan dan telah berganti-ganti pemimpin, dari satu pemimpin ke pemimpin yang lain. Pada masa Amir Ahmad bin al-Hasan, tiba pasukan yan dikirim oleh Al-Muiz li Dinillah di bawah pimpinan Al-Hasan bi Ammar bin Abil-Hasan bin Ali untuk menggagalkan bala bantuan yang didatangkan untuk membantu orang-orang Romawi. Maka lengkaplah kemenangan kaum Muslimin. Pada masa itu daerah-daerah dihiasi dengan berbagai ilmu, para ulama dan para sastrawan. Kebudayaan Islam tersebar sampai ke Italia, Sardinia, dan lain-lainnya. Ketika Norman menguasai pulau ini pada tahun 484 H/109 M para pemduduknya-sebagian besar kaum Muslim menikmati hak-hak dan pekerjaan-pekerjaan mereka. Pada masa Roger 11 Syarif al-ldrisi Abul-Hasan Ali bin Muhammad (556-632 H/1160-1234 M) berada di sana. Ia berasal dari Bani al-Adarisah yang memiliki pengaruh di Andalusia. Al-ldfisi mengarang kitab Nuz hah al-Musytaq. Karena di pulau itu terdapat iklim yang bebas dan toleran maka tersebarlah ilmu pengetahuan dan bersinarlah bermacam-macam pemikiran di sana. Al-ldrisi telah mengunjung daerah Italia Selatan dan tinggal di Sicilia selama beberapa waktu la juga membuat bola dunia dari perak di mana di atas permukaannya terdapat peta. Pulau Creta Pulau ini terletak di sebelah timur Laut Tengah. Penulisan namanya bermacam-macam: Keret, Creta, Kerete, Cifite, dan Crid. Bangsa Yunani dan Romawi berganti-ganti menguasai pulau ini sebelun Masehi. Di masa lalu bangsa Arab dari suku Kan'an pergi dai Syam ke Laut Putih untuk berdagang dan menetap di berbagai pulau, di antaranya di pulau ini. Pada awal masa Islam, kaum Muslim melancarkan serangan terhadap pulau-pulau di Laut Tengah. Serangah pertama sebagaia telah disebutkan adalah terhadap Pulau Cyprus. Lalu sebuah pasukan di bawah pimpinan Junadah bin Abi Umayah Al-Azdi -pada tahun 54 H (674 M) menyerang Rhodes, Arwad, dan Creta. Kaum Muslim tidak ingin menduduki pulau-pulau itu, melainkan hanya ingin mencegah kesewenang-wenangan terhadap negeri-negeri Muslimin. Namun berulang-ulangnya serangan musuh yang dilancarkan dari pulau-pulau ini membuat kaum Muslim melanjutkan serangannya sampai berhasil mendudukinya pada tahun 350 H (961 M). Pada masa Abbasiyah kepemimpinan di pulau ini berada di tangan Humaid bin Ma'yuq al-Hamdani, yaitu pada masa Harun ar-Rasyid. Andalus menjadi kuat di bawah pimpinan Umar bin Isa aI-lqrithsyi (orang Creta) pada tahun 210 H (836 M). Kemudian ditaklukkan oleh Umar bin Syuaib pada tahun 250 H (865 M) dan orang-orang Romawi disingkirkan dari sana. Dalam waktu yang lama pulau itu tetap berada dalam kekuasaan anak cucunya. Mereka telah pindah dari Andalus ke Iskandariyah pada masa Amir al-Hakam bin Hisyam, lalu mereka pergi ke Pulau Creta dan mendudukinya2. Dr. Hasan Ibrahim Hasan, Rektor Universitas Cairo ketika menyebutkan tentang majelis-majelis an-Nu'man bin Muhammad mengatakan: "Sesungguhnya penduduk Creta meminta bantuan kepada al-Muiz Li Dinillah al-Fathimi untuk memerangi orang-orang Romawi. Pada masa itu keadaan dunia Islam telah bercerai-berai, sehingga kaum Muslim mencari jalan keluar. Lalu mereka meminta pertolongan kepada Daulah Fathimiyah yang masih baru berdiri untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang terus menerus menyerang kaum Muslim." Dr. Muhammad Jamaluddin Surur, guru besar sejarah Islam di Universitas Cairo mengatakan: "Setelah kekuasaannya meluas sampai ke Mesir, siasat Daulah Fathimiyah ditujukan untuk mengembalikan kota-kota yang dikuasai oleh Byzantium di Syam Utara. Pada abad ke-14 daulah ini memiliki armada yang besar. Jumlah kapten kapalnya mencapai lima ribu orang, sedangkan kapalnya sejumlah 200 kapal. Bangsa Barat terpaksa melarikan diri dengan kapal-kapal mereka ke sebelah timur laut dari Laut Tengah, namun mereka tidak dapat menyeberanginya, karena Laut Putih dikuasai oleh armada, Daulah Fathimiyah dari Selat Jabal Thariq sampai ke Beirut dan kemenangan selalu menyertainya. Pada masa itu Cairo merupakan pusat tujuan kaum Muslim pada umumnya, di antaranya para ulama dan para pelajar, dan menjadi pemimpin dunia Islam." Al-Ustadz Sayid Hasan al-Amin mengatakan: "Daulah Fathimiyah memberikan perhatian pada kajian-kajian ilmiah dan filsafat, mendekatkan para ulama, memberikan dorongan semangat kepada para pelajar, dan memberikan wakaf kepada orang-orang yang menyibukkan diri dengan ilmu. Di al-Azhar pelajaran-pelajaran diberikan dalam beberapa halaqah: Syafi'iyah 15 halaqah, Malikiyah 15 halaqah, dan Hanafiyah 3 halaqah. Daulah Fathimiyah juga mendirikan perpustakaan, mendatangkan berbagai kitab, dan menempatkan dua orang syaikh dari kalangan Sunni di sana."3 Pada tahun 349 H (961 M) bangsa Romawi dapat menguasainya dengan kekuatan mencapai 72 ribu pasukan setelah berlangsung pengepungan dan peperangan selama satu tahun sampai kaum Muslim dirampas dan ditawan. Di antara para tawanan terdapat amir pulau ini, seorang Muslim. Mereka membawanya, keluarganya, dan para, pengikutnya ke markas kaum Salib di Constantinopel Harta rampasannya, banyak sekali yang menunjukkan besamya jumlah kekayaan kaum Muslim. Kemudian mereka meruntuhkan benteng-benteng dan melemparkan batu-batunya di pelabuhan. Kemudian pada tahun 1204 M yang menguasai pulau ini adalat orang-orang Venesia. Lalu pada tahun 1669 M dikuasai oleh orang-orang Turki, kemudian dikuasai oleh Muhammad Ali Pasha dengan tentara-tentara Mesir. Setelah itu pada tahun 1896 M terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh para penduduknya karena dorongan (hasutan) dari negara-negara Eropa. Orang-orang Turki keluar dari sana pada tahun 1898 M. Pada peperangan Creta antara Daulah Usmaniyah dengan Yunani, Mahmud Sami al-Barudi membuat qashidah yang awalnya sebagai berikut: Para spesialis telah melakukan pembahasan-pembahasan tentang sejarah Pulau Creta. Mereka menyebutkan bahwa dahulu ada keluarga Arab yang memerintah pulau ini dalam masa yang lama. Lalu pulau ini telah ditemukan mata uang-mata uang dan lain-lainnya dari keluarga ini (maksudnya orang-orang Arab). Lalu pulau ini kembali kepada Amir Abu Hafizh Umar bin Syuaib yang memerintah dari tahun 827 M atau 828 M. Demikianlah pulau ini berada di tangan Muslimin sampai diserang oleh Nisephorus Pocas pada tahun 961 M. Kesimpulan pembahasan-pembahasan ini disebudcan dalam Idtabkitab yang menyebutkan nama-nama keluarga ini dan masa-masa kekuasaan orang-orangnya. Pada tahun 1966 diadakan muktamar. -Kemudian dilakukan penggalian-penggalian di mana ditemukan di sana mata uang-mata uang dan peninggalan-peninggalan Arab. Nama-nama orang dari keluarga ini yang pertama-tama adalah: Syuaib al-Qurthubi, lalu anaknya, yang bernama Isa, kemudian Abu Hafizh Umar penakluk Pulau Creta, setelah itu Umar Syuaib, dan Abdul-Aziz Syuaib. Menurut sumber-sumber barat nama para amir (pemimpin)-nya adalah Abu Hafizh, Syuaib, Abu Abdillah, dan Zarqun. Disebutkan juga adanya Umar bin Isa bin Muhammad bin Yusuf bin Abu Hafizh. Ia ditawan pada tahun 350 H/961 M. Abu Hafizh menaklukan Pulau Creta, pada tahun 213 H/828 M dan wafat pada tahun 238 H. Uang-uang dinar yang ditemukan di sini adalah berasal dari tahun 232 H/847 M, 247 H, 271 H, 275 H, 281 H, 340 H, dan 350 H. Pada mata uang itu terdapat dua kalimat syahadat dan nama Umar bin Isa dan al-Mutawakkil 'Alallah. Selain itu, ditemukan juga uang-uang dirham yang bertuliskan nama Ahmad bin Umar tahun 326 H, dan mata uang-mata uang lainnya. Mata uang-mata uang ini terdapat di sebagian museum di Eropa dan Istanbul. Ibukotanya dahulu dinamakan Candie. Leon Al-Ifriqi Ia adalah al-Hasan bin Muhammad al-Wazzan al-Maghribi alugrafi (seorang ahli geografi). Sekitar tahun 898-960 H (1492-1552 M) ia meninggalkan Grenada sebelum kota itu jatuh menuju Fez, mengelilingi Afrika Utara dan Timur, melaksanakan haji, mengunjungi Mesir, Syam, Jazirah Arabia, Iran, dan Turki. Ketika ia kembali pada tahun 927 H/1520 M dan sampai di firbah ia ditawan oleh orang-orang Sicilia dan dijual ke Roma, lalu dihadiahkan ke Paus Leon X yang menyuruhnya untuk memeluk agama Nasrani dan memberikan nama kepadanya "Geofani Leoni". Kemudian ia lari dari tawanan dan kembali ke Islam dan wafat di Tunis pada tahun 944 H dalam usia 50 tahun. Ia memiliki banyak karangan dan kamus dalam bahasa Arab dan Latin. Dalam kitab Washfu Afriqia halaman 22 terjemahan Dr. Abdurrahman Humaidah dan diterbitkan oleh Universitas al-Imam Muhammad bin Suud al-Islamiyah, Fakultas Ilmu-ilmu Islam terdapat keterangan tentang Leon al-Ifriqi. Pengantar kitab itu ditulis panjang lebar dalam 6 halaman. Kitab ini diterbitkan berkenaan dengan berlangsungnya muktamar geografi Islam di kota Riyadh dari 21/2 - 28/2 tahun 1399 H. Dalam kitab itu disebutkan bahwa Leon al-Ifriqi lahir pada tahun 894 H di Grenada dan ditawan pada tahun 926 H/1518 M pada usia 30 tahun. Ia mengarang kitab untuk para pembaca yang menggemarinya pada tahun 1526 M yaitu beberapa tahun setelah ia tinggal di Italia. Ia dapat lepas dari Italia walaupun ia telah dibebaskan antara tahun 1528-1530 M, tidak lebih dari 10 sampai 12 tahun sejak ia tinggal di Italia. Ia menulis sebuah kitab yang panjang lebar tentang geografi Afrika dan sebuah kitab bergambar tentang rumput-rumputan untuk pengobatan.
Sebagian sumber mengatakan bahwa ia kembali ke Tunis pada tahun 1550 M dalam usia 64 tahun dan tinggal di Italia selama 32 tahun. Ia terjun dalam banyak peperangan melawan bangsa Portugal dan Spanyol. Constantin al-Ifriqi Ia seorang pedagang yang berdagang antara Tunis dan Eropa. Ia pernah diculik oleh bajak laut. Kemudian ia pergi ke Italia dan berpura-pura sebagai seorang Nasrani. Nama Islamnya tidak dikenal, sedangkan nama ayahnya adalah Abu Abdillah Muhammad al-Qairawani. Beberapa kitab tentang kedokteran, tumbuh-tumbuhan, ilmu pasti, dan lain-lain ia terjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Ia mendirikan perguruan tinggi kedokteran pertama di Eropa yaitu Perguruan Tinggi Salemo. Ia juga menerjemahkan kitab Ibn al-Jazar, bedudul Zad al-Musafir wa Qut al-Hadhir dan mengajarkannya di Perguruan Tinggi Salemo, Perguruan Tinggi Bologna, dan di Cartagena. Ahmad ash-Shaqili la ditawan oleh orang-orang Normand sekitar tahun 1135 H lalu menjadi Nasrani dan menduduki sejumlah jabatan. Di kalangan mereka ia dikenal dengan nama Gaito Bietro karena ia mengepalai armada Normandia, seperti yang juga terjadi pada seorang Muslim lain yang bernama Philip al-Mahdawi. Hal ini terjadi karena di masa itu orang-orang Muslim mengungguli orang-orang lain dalam urasan-urusan kelautan sehingga orang-orang Barat meminta bantuan kepada mereka. Apalagi orang-orang Norman menguasai banyak wilayah di Afrika Utara. Mereka menyerang daerah-daerah Islam di Laut Tengah dan pulau-pulaunya. Mereka menyerang Kepulauan Beliares. Panglima Petrus (Bietro) yang beragama Islam ini yang berpura-pura menjadi Nasrani diperintahkan untuk membantu pasukan penjaga al-Mahdiyah yang dikepung oleh pasukan al-Muwahhidun. Tetapi ia kembali dengan kegagalan setelah kaum Muslim menyerang armadanya. Raja William 1 pada tahun 1161 M menetapkannya. sebagai seorang penjaga pintu istana kerajaan dan pada masa Ratu Margareth ia merupakan salah satu dari tiga orang anggota majelis penasihat bagi putranya. Kemudian timbul penentangan terhadap dirinya yang dipimpin oleh sepupu ratu yang bernama Gilbert yang menuduhnya berkhianat dan menyembunyikan akidah Islamnya. Ia tahu bahwa Gilbert berusaha menyerangnya. Karena itu pada suatu malam ia berangkat diam-diam bersama dengan beberapa orang kawannya ke Afrika (Tunisia). Lalu ia mengembalikan namanya yang asli Ahmad dan memimpin armada al-Muwahhidun. Ibn Khaldun menyebutkan seperti yang disebutkan di atas dan juga menyebutkan bahwa Ahmad ash-Shaqili menyerang Abdullah bin Abdul-Mukmin dan menuju ke Marrakesh. Di sana ia ikut dalam perjuangan di laut melawan orang-orang Eropa dan peperangan-peperangan di mana ia meraih kemenangan pada tahun 1185 sampai Shalahuddin al-Ayyubi meminta bantuan kepada Bani Abdul-Mukmin untuk memerangi musuh-musuhnya. Kepulauan Baleares Kepulauan Baleares terdiri dari tiga pulau yaitu Meyorka, Menorke, dan Yabisah (Ibiz). Jumlah penduduknya mencapai lebih dari setengah juta orang. Mereka hidup dari mencari ikan, menggembalakan ternak, bertani buah-buahan dan mengadakan perjalanan (sumber: Mujam al-Buldan). Yang memakmurkannya adalah Muhammad bin Ali bin Ghaniyah, raja Meyorka setelah kaum Murabithun lenyap. Lalu pada tahun 1344 M Jack 1, raja Aragon menguasai kepulauan ini dan menggabungkannya ke kerajaannya (sumber: al-Mausu'ah al-Maghribiyah). Malta Merupakan sekelompok pulau di antara Sicilia dan Tunis. Luasnya sekitar 323 Km. Kebanyakan penduduknya berasal dari Arab Afrika sebelah utara. Selama beberapa abad bangsa Arab telah memberikan pengaruh pada kepulauan ini dalam semua lapisan baik penduduk, peradaban, bahasa, dan lain-lainnya. Pada bahasa mereka terdapat kata-kata yang berasal dari bahasa Arab, sebagaimana juga di sana terdapat peninggalan-peninggalan Arab sepert benteng Santa Angelo, makam-makam yang di atas nisan-nisannya terdapat tulisan-tulisan Arab di luar kota Madinah, dan kota-kota yang nama-namanya adalah nama Arab, seperti Rabath, Atharid Madinah, dan Syari' al-Jami'. Tidak diketahui dengan pasti kapan Islam masuk ke sana, tetapi yang dapat diketahui adalah bahwa Muhammad bin Sufyan bin Khafajah menguasai pulau ini pada tahun 256 H dan bahwa dinasti Fathimiyah, dinasti Aghlabiyah, dan lain-lainnya mempunyai peranan yang nyata. Pada masa Islam, para penduduknya masuk Islam dengan sukarela setelah mereka menyaksikan perlakuan yang baik dari kaum Muslim terhadap mereka. Kepulauan ini tetap berada di tangan Muslimin selama 220 tahun. Dinasti Aghlabiyah sampai ke Malta pada tahun 257 H/870 M di bawah pimpinan Ahmad bin Abdullah bin al-Aghlab. Pada tahun 483 H/1090 M Comte Roger dari Normandia, tiba dengan kekuatannya. Lalu al-Hakim al-Arabi menyerahkan kepadanya segala sesuatu secara damai dan para tawanan dilepaskan dengan syarat membayar pajak tahunan. Tetapi ia tidak mendapatkan orang Nasrani yang senang kepadanya. Karena itu ia memberikan kepercayaan kepada orang-orang Muslim untuk pasukannya, memberikan perhatian pada ilmu-ilmu bahasa Arab, mendekatkan para ulama dan dokter-dokter Muslimin dan lain-lainnya. Maka kepemimpinan dalam segala urusan tetap berada di tangan Muslimin dan perdagangan sebagaimana sebelumnya dijalankan oleh orang-orang Muslim. Mata uang Arab berlaku di sana, yaitu mata uang emas yang di atasnya terdapat kalimat syahadat. Ketika itu Malta tetap menulis dengan huruf Arab. Jumlah kaum Muslim di sana banyak, di samping ada juga minoritas Yahudi. Pada tahun 521 H/1127 M Roger II menetapkan kekuasaannya. Dengan kekuasaannya ini masyarakat Normandia pun terbentuk dan perdagangan beralih ke tangan orang-orang asing. Hanya saja orang-orang Muslim tetap tinggal di sana sampai akhir abad ke-13 M. Vatikan mendirikan sekolah pertama untuk mengajarkan bahasa Arab bagi misionaris-misionaris yang dikirim ke Afrika dan negara-negara Arab. Sedangkan Amerika membangun perpustakaan. Sekarang bahasa Arab dipelajari di sekolah-sekolah lanjutan dan pemerintah-pemerintah Arab memberikan guru-guru untuknya. Tetapi kondisi sekarang membuat Malta cenderung mengambil cara Eropa dan bahasa-bahasa Eropa. Penulis terkenal, Ahmad Faris asy-Syidyaq pemilik surat kabar al-Jawaib yang terbit di Istambul telah mengarang sebuah kitab yang ia namakan al-Wasithah fi Ma'rifah Ahwal Malthah dan telah dicetak. Kitab ini kitab yang bermanfaat. 1) Agama Islam. 2) Ibnu-Atsir, Al-Kamil VI/398 3) Majalah Al-Arabi, Kuwait no. 161 bulan Shafar 1393 H/April 1972 halaman 34-39 "Daulah Fathimiyah". |
|
Persatuan Kebajikan Asyraaf Malaysia tidak bertanggungjawap terhadap sebarang bentuk bahan penulisan
atau maklumat yang menyentuh sensiviti sesetengah golongan. Semua bahan penulisan atau maklumat di dalam asyraaf.com adalah dalam bentuk atau salinan asal dari
penulisnya dan pihak kami tidak menambah, mengurangi atau mengedit bahan-bahan penulisan tersebut. Bacalah dengan pandangan dan pendapat anda sendiri. ©2006 Persatuan Kebajikan Asyraaf Malaysia http://www.asyraaf.net content by Shaiful Jamalullail | designed by Karimy BenYahya | coded by Mohd. BilFaqih Sebarang pertanyaan sila email: syedkarimy@gmail.com |
||