| LOGIN | ||
Menu |
REVISI KAFA'AH SYARIFAHBAB 1KOREKSI ATAS BUKU "DERITA PUTRI PUTRI NABI" Pada halaman sebelum "Kata Pengantar" (tanpa nomor halaman) terdapat semacam "Ilustrasi" menggunakan Surah Al-A'raf. (QS. 7: 156-157). Selain terjemahan ayat-ayat tersebut tidak selengkapnya, ayat-ayat ini apabila dimaksudkan sebagai sebuah referensi umum atas buku tersebut diatas, maka sangatlah tidak tepat lagi keliru. Karena tidak ada kaitannya sama sekali dengan Judul Buku. Ketahuilah bahwa sebenarnya ayat-ayat itu berkaitan dengan Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil yang membangkang dan menyembah berhala. Dan Nabi Musa mengumpul 70 orang dari kaumnya untuk mohon tobat kepada Allah. Lebih lanjut lagi Nabi musa melanjutkan do'anya. Dibagian lain adalah penjelasan Allah bahwa sifat dan tanda-tanda ke Nabian Muhammad Saw telah termaktub didalan kitab Taurat dan Injil dan seterusnya. Apabila kisah ini hendak diangkat dalam tulisan, maka ceriteranya harus dimulai dari ayat 148-158. Silahkan periksa kitab-kitab Tafsir Al-Qur'an. Dari kata pengantar penulis diperoleh kesan: Penulis sangat mungkin mempunyai pengalaman tersendiri berkaitan dengan masalah perkahwinan kufu (kafa'ah) yang tidak menyenangkan hatinya. Apakah itu dari kalangan keluarga dekatnya ataupun keluarga sahabatnya atau alasan lain seperti itu. Dan mungkin sekali Saudara Muhammad H. Ass. ini terlibat secara langsung dengan masalah kafa'ah (kufu) dalam perkahwinan yang tidak menyenangkan itu. Penulis mengemukakan pendapatnya secara emosional yang berlebihan, serta bersifat idividualistis. Namun mencoba berlindung dibalik kalimat "menyadari tanggung jawab kepada Al-Khaliq dan makhluk-Nya" yang tanpa disadari bak pepatah mengatakan menepuk air didulang kepercik muka sendiri. Buku ini merupakan sebuah upaya keras penulis untuk mempengaruhi pikiran kaum Alawiyyin. Terutama pada kalangan Sayyid dan Syarifah yang muda belia dan awam, sekaligus memberikan (new spirit) atau semangat baru bagi mereka yang mempunyai pengalaman yang sama dengan penulis sendiri. Penulis tidak jujur ketika mengatakan pendapatnya bahwa tidak ada seorangpun dari kalangan sendiri (Ba'alawi atau Alawiyyin) yang berani mengkaji masalah kafa'ah secara terang-terangan. Demikian penulis memulai tulisannya dengan kesombongan dan kebohongan yang sangat besar. Bukankah telah terdapat banyak kajian mengenai masalah kafa'ah tersebut. Bahkan disajikan dengan indah dan menawan hati, bukan kajian murahan seperti yang dilakukan oleh penulis buku ini. Penulis mengedepankan teorinya seraya menepuk dada bahwa ia tidak takut dengan apa yang dinamakan tulah, kualat (bala). Dari cara ia menyampaikan kata-kata itu terkesan didalam hati penulis sendiri ada rasa takut dan khawatir atas kemungkinan itu. Namun demikian ketahuilah bahwa anda telah mengundang tulah, kualat atau bencana dan malapetaka keatas diri anda sendiri. Mengapa? Karena secara sadar anda telah mencela begitu banyak orang-orang mulia dari para 'Alim 'Ulama Salaf maupun Khalaf yang baik-baik serta para Faqih dizamannya. Tidak itu saja, andapun secara sadar telah menyerang para "Ulama Ba'alawi". Lebih-lebih lagi secara sadar anda telah berani mengoreksi ucapan dan sabda Nabi Saw yang mulia, yang sepatutnya anda berterima kasih. Percaya atau tidak, itu adalah hak anda sendiri tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, kecuali diri anda sendiri. Seharusnya buku itu diberi judul "Derita Putri Putri Muhammad Hasyim Assagaf" yang demikian itu selain lebih obyetif, juga beresiko rendah. Karena dengan demikian anda tidak melibatkan "Institusi Habaib" (Al-Alawiyyin) secara keseluruhan, yang justru membahayakan diri anda sendiri. Penulis sama sekali tidak menyadari dirinya bahwa ia menguraikan masalah-masalah yang ia sendiri awam. Celakanya lagi ia telah memasuki dan menggangu Wilayah Kerasulan Muhammad Saw, yang karena itu ia mengganggu pula Wilayah Allah SWT. Dengan ilmu seperti apakah, dan dengan wajah seperti apakah anda menghadapi Nabi-mu Muhammad Saw dan juga Allah Subhanahu Wata'alaa? Penulis sedikitpun tidak mempunyai keranian untuk mengkonsultasikan buku yang ditulisnya dengan seorang tokoh Agama Islam pun sebelum diterbitkan. Ini dapat dilihat, ketika buku ini hadir tanpa pengantar dari seorang 'Ulama pun juga. Yang demikian sebenarnya memang merupakan ciri-ciri ilmuan yang sombong, angkuh lagi zalim atas dirinya sendiri, tidak patut diikuti. Bab 1, pada halaman 13, alenea kedua dst. Saudara M.H.Ass.mengukur kualitas keimanan Abdul Muthalib yang berpegang teguh kepada Agama Ibrahim a.s itu, sebagai awal sebuah kesombongan suku Quraisy akan nasabnya. Padahal Abdul Muthalib memiliki keimanan dan Tauhid kepada Allah yang sangat prima. Lihatlah ketika ia berdo'a kepada Allah untuk melindungi Ka'bah (Baitullah) milik-Nya dari serangan pasukan Abrahah yang hendak menghancurkannya. Ketahuilah seribu orang seperti anda dalam hal ilmu dan Tauhid kepada Allah, niscaya tidak mampu mengungguli seorang Abdul Muthalib. Pernyataan anda yang miris atas Abdul Muthalib itu memberikan sebuah gambaran betapa kurangnya pengetahuan anda mengenai beliau yang mulia itu, sangat disayangkan. Pada halam 18, Terjemahan ayat-ayat Al-Qur'an ditulis tanpa nama surah dan urutan ayatnya, dan juga tanpa penjelasan yang memadai. Ketahuilah, makna ayat-ayat Allah itu multi dimensional artinya ada makna yang tersurat dan ada pula makna yang tersirat. Yang disebut terakhir ini dapat dicapai dengan menggunakan bantuan dari kitab-kitab Tafsir Al-Qur'an yang ada, yang telah dikenal dan diakui. Hal ini diperlukan agar jangan sampai ayat-ayat Allah yang mulia itu hanya hendak dipergunakan sebagai alat pembenaran terhadap pikiran seseorang saja. Sebab yang demikian itu sangatlah berbahaya tidak saja bagi dirinya sendiri, bahkan juga dapat menyesatkan orang lain. Nabi Saw telah memperingatkan bahwa orang yang menafsirkan ayat-ayat Allah menurut jalan pikirannya sendiri akan membawanya ke neraka jahannam. Sebagai contoh haruslah diingat bahwa persamaan manusia dihadapan Allah, adalah hal yang jelas dan pasti. Dan bahwa kemuliaan seseorang dimata Allah adalah karena taqwanya kepada Allah, itupun sudah pasti dan telah diketahui secara luas dan umum. Namun itu tidak berarti karunia Allah sekaligus sebagai amanah kepada seseorang berupa pangkat, harta kekayaan, kekuasaan (Raja atau Presiden), kebangsawanan atau keturunan (Nasab) tidak lantas dinafikan begitu saja. Toh semuanya itu adalah pemberiaan Allah. Semua orang tahu bahwa asal usul manusia dari Nabi Adam dan Siti Hawa a.s. Tetapi tidak semua orang tahu bahwa dari anak-anak keturunan Nabi Adam a.s. itu ada yang baik dan kemudian menjadi Nabi-Nabi seperti Nabi Syth a.s. Tetapi diantaranya pula ada keturunan orang-orang jahat yang menjadi pembunuh. Pertanyaannya apakah sama martabat anak-anak keturunan Nabi Adam a.s. itu?, tentu tidak bukan? Begitu pula orang yang berilmu dan orang yang bodoh tentu berbeda. Orang yang kaya pasti berbeda pula martabatnya dengan orang yang miskin. Oleh karenanya kelebihan seseorang dengan orang yang lain itu tidaklah harus disalah gunakan sebab didalam perbedaan itu terdapat amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada yang memberi yakni Allah SWT. Begitu juga seorang Raja atau Presiden ia sudah pasti berbeda dengan rakyatnya. Semua itu ada karena karunia dan ketetapan Allah jua. Jadi firman Allah dan sabda Nabi Saw, mengenai tidak ada perbedaan antara orang Arab dan non Arab (Ajam), atau yang berkulit merah atau hitam. Dihadapan Allah kemuliaan itu diukur dengan parameter ketaqwaan kepada Allah. Ini artinya memang ada perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lain, dan itu pemberian dari Allah juga. Namun tidak ada perbedaan didalam fungsi kehambaan mereka kepada Allah. Contoh lain; Orang kaya, orang miskin, orang Eropa, Amerika, Asia, Afrika. Atau pejabat tinggi atau rendahan, Raja, Presiden atau rakyat biasa, Habaib, atau Sayyid, orang Indonesia atau orang Cina semuanya mempunyai kewajiban yang sama kepada Allah SWT. Tetapi mengenai urusan kehidupan dunia, adalah urusan masing-masing orang. Maksudnya tidak ada halangan seorang Raja atau Presiden misalnya hendak mengahwinkan anaknya dengan anak seorang tukang kebun sekalipun, itu tergantung kerelaan semua pihak. Begitu pula apabila Saudara Muhammad H Ass. hendak menikahkan puterinya seorang syarifah dengan kerelaannya sendiri kepada seorang Ajam atau seorang Majusi sekalipun misalnya, itu adalah haknya. Tetapi adalah merupakan sebuah kesalahan yang sangat besar apabila tuan M.H. Ass. lalu memproklamirkan semua syarifah boleh berbuat seperti itu. Ingat Syarifah yang lain adalah anak orang lain, dia dan orang tuanya mempunyai hak sendiri, terserah mereka, tuan tidak perlu mencampuri. Lebih celaka, lebih salah lagi bila tuan M.H.Ass. menggunakan alasan Agama, atau alasan Bani Hasyim, Dzurriyat Rasulullah Saw. jangan sekali-kali tuan memasuki wilayah orang lain yang sama sekali bukan hak anda. Soal hukum Agama semua orang tahu, kita patut memberi nasihat tetapi kita tidak berwewenang untuk memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Kalau tuan M.H.Ass. merasa bahwa menyandang gelar Sayyid itu tidaklah penting, dan bahkan hal itu hanyalah sebuah kesombongan belaka, maka sebenarnya yang paling bijak adalah anda pertimbangkan haruskah gelar sayyid itu anda tanggalkan? Karena ia tidak penting bagi diri anda?, buktikanlah. Daripada anda harus menulis buku yang anda sendiri menjadi tidak tenang dibuatnya? karena anda sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang anda bicarakan (tulis itu). Sebenarnya anda cukup secara diam-diam tidak perlu mengikuti aturan yang menurut anda bahwa itu hanyalah sebuah tradisi saja. Dengan begitu andapun bebas menentukan sikap anda dan keluarga anda sendiri bukan? Itu lebih aman bagi diri anda. Apa manfaatnya anda menulis buku yang nyata-nyata mendiskreditkan leluhur anda sendiri, kemudian anda sebar luaskan, lalu untuk sementara anda tersenyum, mendapat banyak uang, sambil melihat fitnah itu beredar ditengah-tengah masyarakat, tetapi tanpa anda sadari justru hal itu merusak citra diri dan keluarga anda sendiri. Betapa tidak, begitu anda berbuat kekeliruan atau salah mengimplementasikan salah satu ayat saja, padahal itu telah tersebar luas dalam bentuk buku anda, cobalah anda bayangkan mana yang lebih banyak antara anda mereguk keuntungan secara materi dan jumlah dosa-dosa yang diakibatkan olehnya. Bayangkanlah kini bagaimana anda harus bertanggung jawab. Jadi janganlah sekali-kali anda memasuki wilayah bahasan yang anda sendiri tidak mengenalinya dengan baik. Mengenai sabda Rasulullah Saw, dan ucapan Imam Ali k.w. yang anda kemukakan pada Alinea 1, dalam halaman 19&20, anda berkata seperti itu karena anda tidak mempunyai literatur yang cukup. Perhatikan tulisan kami pada halaman sebelum ini, yang diberi judul "Pembukaan". Apabila masih kurang coba anda periksa dalil-dalil yang anda perlukan itu pada buku (yang tertulis pada halaman pembukaan No.11) dan buku "Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw" oleh K.H.Abdullah bin Nuh sekalipun nanti anda tidak menerimanya, itu urusan anda. Adapun isyarat dari Imam Ali k.w. silahkan periksa Buku Mutiara Nahjul Balaghah, Penerbit Mizan, M Al-Baqir halaman 77, anda akan menjumpai ungkapan kemulian keturunan oleh Imam Ali k.w, ia berkata; "tanpa menyombongkan diri" tetapi gambaran bahwa Mu'awiyah dan keturunannya berbeda dengan keturunan Nabi Saw.- bacalah sendiri. Pada bagian lain dari Bab 1 ini, adalah sekedar ilustrasi sejarah sudah terdapat dalam banyak buku sejarah yang jauh lebih lengkap, serta dari sumber yang baik dan populer. |
|
Persatuan Kebajikan Asyraaf Malaysia tidak bertanggungjawap terhadap sebarang bentuk bahan penulisan
atau maklumat yang menyentuh sensiviti sesetengah golongan. Semua bahan penulisan atau maklumat di dalam asyraaf.com adalah dalam bentuk atau salinan asal dari
penulisnya dan pihak kami tidak menambah, mengurangi atau mengedit bahan-bahan penulisan tersebut. Bacalah dengan pandangan dan pendapat anda sendiri. ©2006 Persatuan Kebajikan Asyraaf Malaysia http://www.asyraaf.net content by Shaiful Jamalullail | designed by Karimy BenYahya | coded by Mohd. BilFaqih Sebarang pertanyaan sila email: syedkarimy@gmail.com |
||